Welcome>>Selamat Datang Di Blog Marga Sung ^^

Selasa, 19 Juli 2011

SEJARAH SONG JIAOREN


Song Jiaoren (Bahasa Chinese: 宋教仁; pinyin: Sòng Jiàorén; Wade-Giles: Sung Chiao-jen) (5 April 1882–22 Maret 1913) ialah pemimpin revolusi dan politik China. Ia bernama kecil Song Dunchu (宋鈍初)
Pada 1905, bersama dengan Sun Yat-sen, Song Jiaoren membantu mendirikan dan aktivis utama dalam Tongmenghui, yang merupakan organisasi yang bertujuan menjatuhkan Dinasti Qing Manchu dan pembentukan Negara Republik. Setelah pembentukan Negara Republik China, Song Jiaoren membantu mengubah Tongmenghui menjadi Kuomintang (atau Partai Nasionalis).
Ia tewas akibat luka dari percobaan pembunuhan pada 20 Maret 1913 di stasiun Shanghai saat ia sedang merencanakan menyampaikan pidato yang mendukung sistem kabinet. Yuan Shikai diperkirakan sebagai penghasut plot ini.

Jumat, 08 April 2011

SARAH SONG PROFILE

Sarah Song (Chinese: 宋熙年) (born 1985 in Guangzhou, Guangdong with family roots in Heshan, Guangdong) is the Miss Chinese International 2007 winner. She hails from the city of Sydney, Australia. She speaks three languages, Cantonese, Mandarin, and English.

Pageant career
Sarah was known to compete at the Miss Sydney Chinese 2006 beauty pageant, where she won. She competed as #1 and was 21 years old. Standing at 5'3.75", Sarah Song was a darkhorse in both Miss Chinese Sydney and Miss Chinese International. On January 3, 2007, she arrived at Hong Kong for the Miss Chinese International 2007 pageant. On the night of the finals, January 20, 2007, Sarah was in Foshan for the finals. She won the crown and also received the Miss Chinese Culture (Miss Chinese Ambassador) award. Her victory by many were considered to be because of her good interview skills during the finals. She and the other top 10 delegates were asked to explain Chinese slang sayings. She explained them all quite well as she spoke Cantonese.

Education
Sarah attended the all girls high school, Pymble Ladies' College and graduated in 2003. After the completion of her High School Certificate she attended the University of New South Wales for a Bachelor of Commerce (Services Marketing - Tourism and Hospitality) which she discontinued to pursue a career in showbiz.

Afterwards
Sarah received her prizes later in Guangzhou and returned to Sydney afterwards. Sarah joined TVB and flew to Hong Kong in April 2007.

Currently
Sarah is now working in TVB Payvision as an entertainment news anchor. She will later participate in dramas. Recently she has appeared in the 2007 TVB TVC Awards, Mr Hong Kong 2007 and game shows. Sarah is also hosting a show called "事必關己" along with Sharon Chan, Joey Leung, Tracy Ip, Jess Shum, Ng Hang Mei, Amigo Choi, and more.

Kamis, 17 Februari 2011

CAP GO MEH


Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Imlek bagi masyarakat China, baik yang tinggal di Tiongkok maupun yang tinggal di luar Tiongkok. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien  dan Tio Ciu, sedangkan lafal dialek Hakka Cang Njiat Pan, secara harfiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama. Saat itu juga merupakan bulan penuh pertama dalam Tahun Baru tersebut.
Perayaan ini dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan. Di Taiwan ia dirayakan sebagai Festival Lampion. Di Asia Tenggara ia dikenal sebagai hari Valentine Tionghoa, masa ketika wanita-wanita yang belum menikah berkumpul bersama dan melemparkan jeruk ke dalam laut - suatu adat yang berasal dari Penang, Malaysia. Di daratan Tiongkok dinamakan Yuan Xiau Jie dalam bahasa Mandarin artinya festival malam bulan satu.

Cap go meh mulai dirayakan di Indonesia sejak abad ke 17, ketika terjadi migrasi besar dari Tiongkok Selatan. Semasa dinasti Han, pada malam cap go meh tersebut, raja sendiri khusus keluar istana untuk turut merayakan bersama dengan rakyatnya.

Setiap hari raya baik religius maupun tradisi budaya ada asal- usulnya. Pada saat dinasti Zhou (770 - 256 SM) setiap tanggal 15 malam bulan satu Imlek para petani memasang lampion-lampion yang dinamakan Chau Tian Can di sekeliling ladang untuk mengusir hama dan menakuti binatang-binatang perusak tanaman. Memasang lampion-lampion selain bermanfaat mengusir hama, kini tercipta pemandangan yang indah dimalam hari tanggal 15 bulan satu. Dan untuk menakuti atau mengusir binatang-binatang perusak tanaman, mereka menambah segala bunyi-bunyian serta bermain barongsai, agar lebih ramai dan bermanfaat bagi petani. Kepercayaan dan tradisi budaya ini berlanjut turun menurun, baik didaratan Tiongkok maupun diperantauan diseluruh dunia. Ini adalah salah satu versi darimana asal muasalnya Cap go meh.

Sabtu, 12 Februari 2011

FESTIVAL LAMPION


Festival Lampion (hanzi sederhana: 元宵节, hanzi tradisional: 元宵節, pinyin: yuanxiaojie) adalah festival dengan hiasan lentera yang dirayakan setiap tahunnya pada hari ke-15 bulan pertama kalender Tionghoa yang menandai berakhirnya perayaan tahun baru Imlek. Festival ini biasanya dirayakan secara luas di Taiwan, Hongkong dan sebagian besar daerah di China, Singapore, Malaysia dan Indonesia.

Jumat, 11 Februari 2011

TRADISI TAHUN BARU IMLEK

Asal-usul perayaan Tahun Baru Imlek  terlalu tua untuk dikaji. Walau bagaimanapun, pendapat umum mengatakan,  ‘Nian’ atau ‘tahun’, adalah nama untuk raksasa yang sering mencari mangsa pada malam sebelum tahun baru. Menurut lagenda, Nian mempunyai mulut yang sangat besar, dan mampu menelan banyak manusia dengan satu gigitan. Manusia pada waktu itu sangat  takut akan raksasa Nian ini. Pada satu hari, kebun buluh yang berdekatan dengan perkampungan terbakar. Buluh-buluh yang terbakar itu meletup dan mengeluarkan bunyi yang sangat kuat seperti petasan. Hal  Ini telah menakutkan Nian lalu ia tidak berani untuk mendekati kampung itu. Orang-orang tua juga telah berpesan agar orang-orang kampung menggantungkan kertas berwarna merah di pintu-pintu dan didalam  rumah mereka pada saat menjelang datangannya  tahun baru, hal ini untuk menghalau Nian yang akan mengganas lagi. Warna merah sangat ditakuti oleh Nian, dan mampu menghalau raksasa itu.
Begitulah lagenda yang dipercayai oleh masyarakat  Tionghoa.  Tradisi  bermain petasan dan menggantung kertas merah masih diteruskan hingga saat  ini, walaupun banyak  diantara genererasi muda Tionghoa  yang tidak tahu maksud dan  tujuan tradisi tersebut dilakukan. Mereka hanya beranggapan bahwa tradisi  tersebut hanya untuk meramaikan datangnya  Tahun Baru Imlek.