Welcome>>Selamat Datang Di Blog Marga Sung ^^

Sabtu, 09 Mei 2020

Meizhou, Diaspora orang Hakka



Meizhou atau Kota Meizhou (梅州市, Hakka: Mòi-chiu-sṳ), secara historis dikenal dengan nama Jiaying (嘉應, Kâ-yin), adalah kota setingkat prefektur yang terletak di timur laut Provinsi GuangdongRepublik Rakyat Tiongkok. Meizhou dikenal sebagai "kampung halaman orang Hakka", salah satu kelompok Tionghoa yang telah merantau dan tinggal di berbagai negara.

Sejarah singkat

Permukiman manusia di Meizhou dimulai sejak zaman Neoilitikum. Sejarah Meizhou dimulai sejak masuknya Suku Han dari Tiongkok utara yang berasimilasi dengan penduduk asli. Kelompok Suku Han ini yang kemudian dinamakan orang Hakka. Pada periode Dinasti Han Selatan, salah satu negara di Zaman Lima Dinasti dan Sepuluh Kerajaan (917-971), daerah Meizhou ditetapkan sebagai Prefektur Jingzhou. Pada zaman Dinasti Song Utara (960-1127), Prefektur Jingzhou berganti menjadi Distrik Meizhou (tahun 971). Karena di tempat itu tumbuh banyak tanaman bunga meihua, maka ia dinamai Meizhou "Daerah/distrik Bunga Prunus mume". Pada periode Dinasti Qing daerah ini ditingkatkan statusnya sebagai Karesidenan Jiaying (Jiaying-fu). Pada tahun 1912, Jiaying diubah menjadi kabupaten bernama Meixian (Kabupaten Mei). Selama periode Dinasti Qing dan awal abad ke-20, migrasi besar orang Hakka keluar dari Meizhou menuju berbagai tempat di Asia Tenggara, India, Taiwan dan benua Amerika. Meixian dijadikan kota setingkat prefektur Meizhou mulai tahun 1988 hingga sekarang.

Geografi

Kota Meizhou menempati daerah yang berbukit-bukit di timur laut Guangdong, berdekatan dengan perbatasan antar provinsi Guangdong, Fujian dan Jiangxi. Sungai Mei, anak Sungai Han, mengaliri Meizhou sebelum bermuara ke laut dekat Shantou. Kota Meizhou memiliki iklim subtropis dengan hari terpanas berlangsung di bulan Juli, hari terdingin pada bulan Januari. Curah hujan sebagian besar jatuh antara April sampai September.

Ekonomi dan transportasi

Ekonomi Meizhou tumbuh pesat sejak tahun 1990-an. Industri-industri yang tumbuh di sini ialah kimia, tekstil, elektronik dan bahan bangunan. Kota-kota besar yang berdekatan dengan Meizhou antara lain Shenzhen dan Shantou. Dari ibu kota provinsi Guangdong, Guangzhou, Meizhou berjarak 380 km. Meizhou merupakan pusat perekonomian di dataran Sungai Mei yang terletak di bagian belakang pesisir Guangdong. Jalur kereta api Meizhou-Guangzhou dan Meizhou-Shantou diselesaikan pada tahun 1990-an. Jalur kereta api dengan provinsi Fujian dibuka di Zhangping.

Budaya

Meizhou merupakan pusat budaya Hakka, dijuluki juga "Kampung Halaman Hakka"/"Ibu kotanya orang Hakka". Penduduk daerah ini berbicara dalam Bahasa Hakka dialek Meixian yang menjadi standar Bahasa Hakka. Berbeda dengan tulou, rumah Hakka khas Provinsi Fujian, bangunan-bangunan tradisional Hakka yang dapat ditemui di Meizhou adalah weilongwu, kompleks rumah-rumah rakyat yang hidup secara berdampingan. Seni Meizhou diwakili dalam balada-balada Hakka yang disebut "Lagu Gunung Hakka" (Hak-kâ Sân-kô) dan Opera Hakka. Orang Hakka memasak Kuliner Hakka yang berciri-ciri dengan hidangan yang berlemak, asin dan harum.

Administrasi

Wilayah Meizhou terdiri dari 2 distrik, yaitu Meijiang dan Meixian, Distrik Meijiang menjadi pusat Meizhou. serta 5 kabupaten (xian), dan satu kota setingkat kabupaten. Lima kabupaten tersebut yakni Dapu, Fengshun, Wuhua, Pingyuan dan Jiaoling.  Dan Kota setingkat kabupaten adalah Kota Xingning.

Objek wisata

Museum Hakka China: Tempat ini menunjukkan perkembangan Hakka, kelompok imigran utama orang Han di China Selatan; di sini Anda dapat belajar tidak hanya budaya dan semangat mereka tetapi juga kisah-kisah Hakka yang terkenal itu.

Kuil Lingguang: Kuil ini berdiri di kaki Gunung kota Yinna, 46 kilometer (29 mil) dari pusat kota. Dikenal sebagai salah satu dari empat kuil terkenal di Provinsi Guangdong, Kuil Lingguang telah berdiri di sana selama lebih dari 1.200 tahun sejak pertama kali dibangun pada Dinasti Tang (618-907).

Menara Lianfang dan Gunung Yinna: Gunung Yinna, 46 kilometer (29 mil) dari pusat kota Meizhou, adalah salah satu dari tiga gunung paling terkenal di Provinsi Guangdong. 

Kuil Lingguang yang terkenal berdiri di kaki Gunung Yinna. Menara Lianfang juga dikenal sebagai Huaqiao Weiwu. Weiwu adalah semacam hunian vernakular dari Hakka yang dihuni oleh seluruh marga. Bangunan ini dibangun oleh orang China luar negeri pada akhir Dinasti Qing (1644-1911). Bagian dalam dibangun sesuai dengan struktur menara tradisional yang terkepung, Weiwu, tetapi dinding luar dirancang untuk menjadi gaya barat. Ini adalah kombinasi dari Hakka tradisional dan bangunan barat.

Objek Wisata Kebun Kerinduan yang Mendambakan: Ini adalah desa liburan dengan luasnya ladang teh dan banyak vila. Anda tidak hanya dapat mencicipi semua jenis teh dan menonton pertunjukan seni teh, tetapi juga belajar tentang budaya Hakka dan melihat  tanah dan bangunan Hakka.

Tempat wisata lainnya: Pagoda Seribu-Buddha, Zona Wisata Huangfengwo Chashan (Gunung Teh)


Kamis, 24 September 2015

Legenda tentang Asal Usul Hari Tiong Ciu



Tanggal 15 bulan 8 Imlek adalah Festival Rembulan atau hari Tiong Ciu, salah satu hari raya tradisional yang sangat penting di Tiongkok. Tiong Ciu biasanya jatuh pada pertengahan musim gugur, maka juga disebut sebagai Hari Raya Pertengahan Musim Gugur.

Kini di Tiongkok terdapat banyak peninggalan sejarah seperti "Altar Sembahyang Bulan", "Serambi Sembahyang Bulan" atau "Gedung Menikmati Bulan". Misalnya "Kuil Bulan" (月坛) yang terletak di sebelah barat kota Beijing, adalah sebuah bangunan khusus untuk upacara sembahyang kepada bulan yang dibangun pada masa Dinasti Ming (1368-1644 Masehi).

Pada Hari Tiong Ciu, biasanya orang Tiongkok menaruh meja sembahyang di halaman terbuka, dengan disedikan kue bulan, delima, kurma dan kuaci di atasnya, setelah bersembahyang kepada bulan, anggota sekeluarga duduk berkeliling di meja, makan sambil ngobrol, bersama-sama menikmati pemandangan bulan purnama.
Makan kue bulan atau Tiong Ciu Piah pada hari raya tersebut adalah adat-istiadat masyarakat Tionghoa. Kue bulan yang berbentuk bulat melambangkan reuni keluarga.

Mengenai asal usulnya Hari Tiong Ciu, legenda "Chang'e terbang ke bulan" adalah salah satu cerita yang paling popular di Tiongkok.

Konon pada zaman dahulu, di langit terdapat 10 matahari sehingga padi-padi di ladang terpanggang hangus, dan dzi bumi binatang ganas dan ular berbisa merajalela ke mana-mana. Waktu itu, di bumi ada seorang pahlawan yang namanya Hou Yi. Hou Yi yang pandai memanah pada suatu hari menaiki gunung Kunlun dan dengan berani memanah jatuh Sembilan dari 10 matahari di langit, dan memerintahkan satu matahari yang sisa harus naik turun sesuai dengan jadwalnya.

Sejak itulah, Hou Yi menjadi pahlawan yang sangat dihormati rakyat, kemudian dia memperisteri seorang gadis yang cantik dan baik hati, yakni Chang'e. Pasangan suami-istri itu saling cinta-mencintai, dan hidup bahagia sejak itu.

Banyak orang mengikuti Hou Yi belajar kepandaiannya, salah satu anak buahnya adalah Peng Meng, yang cukup jahat.

Suatu peristiwa, Hou Yi sempat bertemu Ibu suri Raya Langit, dan diberikan obat awet muda seumur hidup. Katanya, siapa pun yang minum obat itu bisa segera terbang ke langit dan menjadi dewa. Hou Yi tidak minum obat itu karena tidak tega meninggalkan istrinya, akhirnya obat itu disimpan oleh Chang'e. Namun hal itu diketahui oleh Peng Meng. Dia ingin mencuri obatnya.

Suatu hari, ketika Hou Yi lagi memburu di luar, Peng Meng masuk ke kamar Chang'e dengan memegang pedang untuk merebut obat panjang umur itu. Untuk menjaga obat itu, Chang'e tak dapat tidak menelan obatnya, kemudian, badan Chang'e segera menjadi ringan dan mulai terbang ke langit. Karena Chang'e sangat kangen suaminya, akhirnya sang istri terbang ke bulan, bintang yang paling dekat dengan bumi.

Hou Yi pulang dan sangat sedih setelah mengetahui insiden itu, tapi penjahat Peng Meng telah kabur. Hou Yi melihat bulan sambil berteriak-teriak nama isitrinya. Tiba-tiba di mencatat, bulan di langit sangat murni dan terang, sepertinya ada satu bayangan yang mirip istrinya. Dia mencoba mengejar bulan tapi gagal
.
Hou Yi sudah putus asa, tapi tetap sangat merindukan istrinya, dia menaruh meja di halaman belakang rumahnya, menyediakan banyak manisan, dan buah-buahan yang disukai Chang'e, dia bersembayang ke bulan, tempat Chang'e tinggal.

Rakyat sesudah mengetahui Chang'e menjadi dewi di bulan, maka beramai-ramai menyediakan meja dengan sesajen untuk bersembahyang ke Chang'e.
Mulai saat itu, adat-istiadat sembahyang bulan sudah popular di Tiongkok.

Kamis, 02 Juli 2015

10 TRADISI TIONGHOA YANG DIPERCAYA DAPAT MEMBAWA KEBERUNTUNGAN

Setiap Masyarakat  memiliki tradisi yang diyakini dapat membawa dampak positif ataupun negatif. Pada masyarakat Tionghoa, tradisi atau simbol ini dianggap dapat mendatangkan keberuntungan dan kesejahteraan dalam rumah dan keluarga. Berikut ini adalah sepuluh tradisi masyarakat Tionghoa yang dianggap dapat membawa keberuntungan :

1. Bambu
Tanaman ini dianggap sebagai simbol keberuntungan. Bambu juga dianggap dapat membawa solidaritas dan kesatuan dalam keluarga. Tunas bambu yang diikat dengan pita merah melambangkan rasa kesatuan

2. Lampion 
Lampion dianggap dapat membawa keberuntungan dalam pernikahan dan umur panjang. Ini adalah item dekorasi yang dianggap dapat membawa keberuntungan bagi pengantin baru. Lampion Merah juga dipasang saat hari raya Imlek dengan tujuan dapat membawa keberuntungan/rejeki,

3. Koin Emas
Koin emas menyerupai kekayaan. Koin ini biasanya ditaruh di mangkuk atau Anda dapat membeli koin yang diikat dengan simpul mistik untuk membawa keberuntungan ke rumah Anda.

4. Dewa kekayaan
Patung dewa kekayaan juga dianggap dapat membawa keberuntungan ke rumah Anda dalam hal finansial. Namun syaratnya, seseorang harus menghadiahi ornamen ini kepada Anda untuk bisa membawa keberuntungan ke rumah Anda.

5. Pintu merah
Pintu yang dicat merah di awal tahun dianggap dapat membawa keberuntungan ke rumah. Warna merah juga dipercaya membawa sukacita dan kebahagiaan dalam keluarga.

6. Ornamen gajah atau harimau
Gajah termasuk dalam unsur keberuntungan. Patung gajah biasanya ditempatkan di dekat pintu depan rumah untuk mengusir nasib buruk. Jika diletakkan di kamar tidur, ornamen harimau, yang juga merupakan simbol kekuatan, dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.

7. Patung Buddha tertawa
Patung Buddha tertawa dapat membawa ketenangan dan keberuntungan ke rumah. Jika patung ini ditempatkan di arah Barat rumah, itu diyakini dapat membawa kebahagiaan dan kekayaan spiritual.

8. Ikan Emas
Ikan mas seperti magnet yang dipercaya dapat mendatangkan kekayaan. Kombinasi terbaik yang diyakini dapat mendatangkan kekayaan adalah kombinasi dari delapan ikan emas berwarna merah atau emas dan satu hitam di dalam akuarium.

9. Kristal
Jika seseorang memiliki anak di rumah, dia disarankan untuk menempatkan kristal di arah timur laut dari rumahnya. Ini dilakukan untuk memastikan keberhasilan datang pada anak dan rumah itu.

10. Simbol bintang
Dalam tradisi Tionghoa dikatakan "Berharaplah pada bintang keberuntungan untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan". Menurut budaya China, bintang harus ditempatkan di rumah, sehingga apa pun yang diinginkan dapat terwujud.

Inilah sepuluh simbol / tradisi dalam masyarakat Tionghoa yang dipercaya dapat membawa keberuntungan.


Selasa, 30 Juni 2015

Peh Cun

Duanwu Jie (Hanzi: 端午節) atau yang dikenal dengan sebutan festival Peh Cun di kalangan Tionghoa-Indonesia adalah salah satu festival penting dalam kebudayaan dan sejarah Tiongkok. Peh Cun adalah dialek Hokkian untuk kata pachuan (Hanzi: 扒船, bahasa Indonesia: mendayung perahu). Walaupun perlombaan perahu naga bukan lagi praktik umum di kalangan Tionghoa-Indonesia, namun istilah Peh Cun tetap digunakan untuk menyebut festival ini.
Festival ini dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek dan telah berumur lebih 2300 tahun dihitung dari masa Dinasti Zhou. Perayaan festival ini yang biasa kita ketahui adalah makan bakcang (Hanzi: 肉粽, hanyu pinyin: ròuzòng) dan perlombaan dayung perahu naga. Karena dirayakan secara luas di seluruh Tiongkok, maka dalam bentuk kegiatan dalam perayaannya juga berbeda di satu daerah dengan daerah lainnya. Namun persamaannya masih lebih besar daripada perbedaannya dalam perayaan tersebut.

Asal Usul  Perayaan Festival Peh Cun :   

Peringatan atas Qu Yuan

Zhongzi
Qu Yuan (Hanzi: 屈原) (339 SM - 277 SM) adalah seorang menteri negara Chu (Hanzi: 楚) di Zaman Negara-negara Berperang. Ia adalah seorang pejabat yang berbakat dan setia pada negaranya, banyak memberikan ide untuk memajukan negara Chu, bersatu dengan negara Qi (齊) untuk memerangi negara Qin (秦). Namun sayang, ia dikritik oleh keluarga raja yang tidak senang padanya yang berakhir pada pengusirannya dari ibu kota negara Chu. Ia yang sedih karena kecemasannya akan masa depan negara Chu kemudian bunuh diri dengan melompat ke sungai Miluo. Ini tercatat dalam buku sejarah Shi Ji.
Lalu menurut legenda, ia melompat ke sungai pada tanggal 5 bulan 5. Rakyat yang kemudian merasa sedih kemudian mencari-cari jenazah sang menteri di sungai tersebut. Mereka lalu melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai dengan maksud agar ikan dan udang dalam sungai tersebut tidak mengganggu jenazah sang menteri. Kemudian untuk menghindari makanan tersebut dari naga dalam sungai tersebut maka mereka membungkusnya dengan daun-daunan yang kita kenal sebagai bakcang sekarang. Para nelayan yang mencari-cari jenazah sang menteri dengan berperahu akhirnya menjadi cikal bakal dari perlombaan perahu naga setiap tahunnya.

Bermula Dari Tradisi Suku Kuno Yue di Tiongkok Selatan

Perayaan sejenis Peh Cun ini juga telah dirayakan oleh suku Yue di selatan Tiongkok pada zaman Dinasti Qin dan Dinasti Han. Perayaan yang mereka lakukan adalah satu bentuk peringatan dan penghormatan kepada nenek moyang mereka. Kemudian setelah terasimilasi secara budaya dengan suku Han yang mayoritas, perayaan ini kemudian berubah dan berkembang menjadi perayaan Peh Cun yang sekarang kita kenal.

Kegiatan Dan Tradisi

  • Lomba Perahu Naga : Tradisi perlombaan perahu naga ini telah ada sejak Zaman Negara-negara Berperang. Perlombaan ini masih ada sampai sekarang dan diselenggarakan setiap tahunnya baik di Tiongkok Daratan, Hong Kong, Taiwan maupun di Amerika Serikat. Bahkan ada perlombaan berskala internasional yang dihadiri oleh peserta-peserta dari manca negara, kebanyakan berasal dari Eropa ataupun Amerika Utara. Perahu naga ini biasanya didayung secara beregu sesuai panjang perahu tersebut.
Bakcang
  • Makan Bakcang : Tradisi makan bakcang secara resmi dijadikan sebagai salah satu kegiatan dalam festival Peh Cun sejakDinasti Jin. Sebelumnya, walaupun bakcang telah populer di Tiongkok, namun belum menjadi makanan simbolik festival ini. Bentuk bakcang sebenarnya juga bermacam-macam dan yang kita lihat sekarang hanya salah satu dari banyak bentuk dan jenis bakcang tadi. Di Taiwan, pada zaman Dinasti Ming akhir, bentuk bakcang yang dibawa oleh pendatang dari Fujianadalah bulat gepeng, agak lain dengan bentuk prisma segitiga yang kita lihat sekarang. Isi bakcang juga bermacam-macam dan bukan hanya daging. Ada yang isinya sayur-sayuran, ada pula yang dibuat kecil-kecil namun tanpa isi yang kemudian dimakan bersama serikaya, gula manis.
  • Menggantungkan Rumput Ai dan Changpu : Peh Cun yang jatuh pada musim panas biasanya dianggap sebagai bulan-bulan yang banyak penyakitnya, sehingga rumah-rumah biasanya melakukan pembersihan, lalu menggantungkan rumput Ai (Hanzi: 艾草) dan changpu (Hanzi: 菖埔) di depan rumah untuk mengusir dan mencegah datangnya penyakit. Jadi, festival ini juga erat kaitannya dengan tradisi menjaga kesehatan di dalam masyarakat Tionghoa.
  • Mandi Tengah Hari : Tradisi ini cuma ada di kalangan masyarakat yang berasal dari Fujian (Hokkian, Hokchiu, Hakka),Guangdong (Teochiu, Kengchiu, Hakka) dan Taiwan. Mereka mengambil dan menyimpan air pada tengah hari festival Peh Cun ini, dipercaya dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit bila dengan mandi ataupun diminum setelah dimasak.
  • Dan masih banyak kegiatan dan tradisi lainnya yang berbeda-beda di masing-masing propinsi di Tiongkok. Suku Manchu, Korea, Miao, Mongol juga merayakan festival ini dengan tradisi mereka masing-masing.
                               

Kamis, 14 Februari 2013

Qi Shi 七夕 - Hari "Valentine" Tionghoa



Qi Shi 七夕 - Hari "Valentine" Tionghoa

14 Februari adalah hari Valentine Barat yang diperingati luas di dunia. Namun sebenarnya orang Tionghoa juga punya hari valentine sendiri. Chinese Valentine memang masih lama, namun menyambut hari Valentine 14 Februari, saya turunkan juga tulisan tentang Chinese Valentine yang populer di kalangan Tionghoa di seluruh dunia. 

Chinese Valentine disebut "Qi Shi", yang artinya malam ketujuh di bulan tujuh penanggalan Imlek. Jadi Chinese Valentine jatuh pada tanggal 7 bulan 7 penanggalan Imlek. Asal usul perayaan hari kasih sayang ala Chinese ini berasal dari sebuah legenda yang diceritakan turun temurun. 

Dikisahkan pada zaman dulu (juga tertulis di beberapa buku sejarah kuno Tiongkok), pada tanggal 7 bulan 7 penanggalan Imlek, bintang Altair (Niu Lang Sing, Bintang Penggembala) yang terpisah dengan bintang Vega (Ce Nu Sing, Bintang Wanita Penenun) akan melewati Milky Way dan bertemu setahun sekali. 

Legenda yang kemudian populer selama ribuan tahun menceritakan bahwa wanita penenun adalah anak dari Raja Dewa Yu Huang di kerajaan langit. Ia terkenal akan kepintaran dan kecantikannya. Setelah remaja, tentu saja seperti gadis remaja lainnya, ia ingin mencari pasangan hidup yang baik. Waktu yang bersamaan, di bumi ada seorang penggembala. Setelah orang tuanya meninggal, ia kemudian selalu disiksa dan dikucilkan saudara2nya dan dalam pembagian harta sang orang tua, ia cuma diberikan seekor kerbau yang selalu digembalakannya sedangkan saudara2nya mendapatkan sawah dan rumah orang tuanya. 

Penggembala sangat menyayangi sang kerbau, ia selalu menganggap kerbau sebagai keluarganya dan menceritakan segala keluh kesahnya. Suatu hari, sang kerbau memanggil namanya dan memintanya untuk ke pinggir sungai karena akan ada beberapa gadis yang sedang mencuci baju besok. Sang kerbau menyuruhnya mengambil baju berwarna ungu dan gadis pemiliknya akan ditakdirkan menjadi istrinya. 

Keesokan harinya, penggembala melaksanakan perintah sang kerbau dan ia kemudian bertemu dengan sang penenun yang merupakan pemilik baju ungu tersebut. Mereka kemudian saling menyukai dan memutuskan untuk menikah dan hidup bahagia. Namun peristiwa tadi diketahui oleh Ratu di kerajaan langit dan segera menyuruh penenun untuk pulang ke kerajaan langit. Penggembala kemudian mengejar penenun, namun Ratu mencabut konde emasnya dan melemparkannya di antara mereka. Konde kemudian berubah menjadi sungai perak yang dikenal sebagai galaksi Milky Way untuk memisahkan mereka selamanya. 

Namun setelah melihat kesungguhan hati dan cinta mereka, Ratu kemudian memperbolehkan mereka untuk bertemu setahun sekali pada tanggal 7 bulan 7. Pada malam ini, burung magpie yang mengasihani mereka akan membuat jembatan di atas Milky Way supaya mereka dapat bertemu. 

Memang seperti dongeng anak sebelum tidur dan juga banyak sekali versi yang ada di masyarakat. Legenda tinggal legenda, yang harus kita ambil adalah makna yang terkandung di dalamnya. Beruntunglah kita yang memiliki cinta dan kasih sayang di dekat kita dibandingkan dengan kisah cinta penggembala dan penenun yang cuma bisa bertemu setahun sekali. Cintai dan sayangilah pasangan hidup kita selagi kita bisa menyayanginya. Jangan cuma bisa merindukannya bila telah jauh berpisah. 

Perayaan Chinese Valentine ini sangat populer di Taiwan, RRC, HK dan Macau, selain daripada Valentine 14 Februari. Perangko dan uang logam kenang2an juga telah dikeluarkan oleh pemerintah negara di atas. Namun, perayaan setahun sekali ini cuma sebuah perlambang. Bagi pasangan yang penuh dengan kasih sayang dalam kehidupannya, 365 hari dalam setahun adalah hari Valentine bagi mereka.

Berlainan dengan perayaan hari Valentine di dunia barat yang bermakna agamis. perayaan Chinese valentine maknanya sangat romantis dan puitis. cobalah simak sebuah Syair yang ditulis penyair dari dinasti Song, yang menggambarkan legenda putri penenun dan putra gembala.

TITIAN  JALAK
Qin Guan ( 1049–1100 ; Song )

Awan lembut mengolak lukisan,
bintang terbang menebar penyesalan,
samar melintasi Bima Sakti yang tanpa tepian.
Satu kali bersua dalam angin emas embun perak,
telah melebihi berulang berjumpa di dunia insan!

Cinta yang lembut selaksana air,
hari yang bahagia bagaikan mimpi,
tak kuasa menengok jalan kembali lewat titian jalak!
Apabila cinta di kedua hati adalah kekal abadi,
masihkah kehadiran dihitung setiap senja setiap pagi?

Rabu, 13 Februari 2013

VICTORIA SONG QIAN F[X]


Song Qian [宋茜], Victoria Song atau lebih dikenal dengan Victoria adalah leader dari group girlband papan atas di Korea Selatan , f(x). Lahir di Qingdao , Shandong , 2 Februari 1987. Setelah tamat pendidikan menengah atas, Song masuk ke Beijing Dance Academy yang bergengsi dengan studi utama tarian etnis Tiongkok. Dalam kompetisi dance di Beijing di tahun 2007 , Song menarik perhatian pemandu bakat dan akhirnya di rekomendasikan ke SM Entertainment. Song lulus audisi dan mulai berkarir sebagai artis Korea.

Song muncul pertama kali dalam media bersama aktor Korea , Lee Junki . Kemudian Song terlibat sebagai model Samsung dalam musik video bersama Rain. Song juga terlibat dalam serial “Running Man” dan akhirnya bertemu dengan sesama chinese lainnya , Nickhun Horvejkul, dalam acara “We Got Married”  . Nickhun adalah member 2 PM , seorang Chinese asal Thailand. Kedua pasangan berdarah Chinese di Korea ini sering dijuluki Khuntoria yang berasal dari nama Nickhun dan Victoria.
Di tahun 2009 SM Entertainment membentuk band f(x) dengan Song sebagai leader bersama empat personil lainnya ,Amber , Sulli , Krystall dan Luna. Grup ini menjadi salah satu grup papan atas di Korea dan terlibat dalam beberapa iklan komersial seperti Calvin Klein dan LG .
Song adalah  lulusan Beijing Dance Academy , sehingga tidak heran jika Song memiliki kemampuan menari dan kelenturan tubuh yang luar biasa yang sering diperagakan dalam berbagai acara live di TV sehingga kerap dijuluki “Miss Elastic”.
DATA :
Name : Victoria Song , Song Qian [Song Chi En]
Chinese name: 
宋茜
Birth date: February 2, 1987
Birth place: Qingdao , Shandong
Height: 168 cm
Education: Beijing Dance Academy
Profession: Artis , Singer , Dancer ,

SONG ZUYING 宋祖英 : NYANYIAN SEORANG PRAJURIT


Song Zuying 宋祖英 lahir di tahun 1966 di sebuah keluarga petani miskin di desa Yantouzhai , Provinsi Hunan . Keluarganya merupakan bagian dari masyarakat Miao , sebuah grup etnis di Tiongkok.
Ayahnya sering terbujur sakit di atas ranjang sehingga ibunya menanggung beban berat keluarga bahkan untuk sekedar membayar uang sekolah bagi Song kecil. Seorang dermawan baik hati meminjamkan 5 Yuan , sehingga Song dapat melanjutkan sekolah. Ibunya mengembalikan uang tersebut dengan memotong dan menjual kayu bakar.
Kerabat dan teman keluarga Song membujuk ibunya untuk tidak menyekolahkan Song agar dapat membantu keluarganya mencari uang. Song sendiri anak tertua , dan memiliki dua adik ,  adik lelakinya yang tuna rungu dan satu lagi adik perempuan. Tetapi ibunya bersikeras mempertahankan Song untuk tetap sekolah dan percaya bahwa sekolah adalah satu-satunya kesempatan bagi anaknya untuk masa depan yang lebih cerah.
Song tidak hanya mewarisi suara indah dari ibunya , dia juga mempelajari nyanyian gunung dari ibunya. Ibu Song mendorong anaknya sehingga pada usia 15 tahun , Song masuk kedalam kelompok pertunjukan di Kabupaten Guzhang dimana dia beraksi selama tiga tahun.
Pada saat menempuh pendidikan menengah atas , Song Zuying harus mendaki sebuah bukit untuk mencapai sekolahnya di desa Yantouzhai , Provinsi Hunan . Setiap pagi , saat mencapai puncak bukit , Song akan menyanyi dengan suara nyaring. Song menyukai gema yang terpantul dari lembah yang sunyi. Terkadang Song menangis , dan satu suara menjawabnya dari seberang bukit. Song menyanyi dan suara diseberang bukit pun mengikutinya.
Dengan suara dan nyanyiannya , Song dapat berkomunikasi dengan orang yang tidak pernah dia jumpai. Dari desa terpencil dan masyarakat pinggiran ini Song mulai melangkah menemukan dunia yang luas. Dimulai dengan sebuah kelompok lokal di Hunan untuk meraih pencapaian dunia dan prestise dari Vienna hingga Opera Sydney.
Di usia 17 tahun , Song lulus audisi untuk masuk ke  sebuah kelompok musik dan tari di Xiangzi Miao Autonomous Prefecture , Provinsi Hunan. Dua tahun kemudian , Song masuk Departemen Musik dan Tari dari Central University of Nationalities di Beijing. Song menjadi gadis pertama dari desanya untuk berada di Beijing. Setelah lulus ditahun 1987 , pada usia 23 tahun , Song kembali ke kelompok Lagu dan Tari sebagai solois. Song memperhatikan bahwa penonton lokal tidak terlalu berminat pada lagu rakyat karena wabah lagu pop yang mulai mendapat tempat di Tiongkok. Sehingga Song memutuskan untuk kembali ke Beijing dan mendaftar ke sebuah ajang menyanyi nasional dimana Song mengalami kegagalan.
Titik balik karirnya sebagai penyanyi terjadi pada tahun 1998 ketika dia berpartisipasi dalam sebuah kontes televisi bagi penyanyi muda di Provinsi Hunan. Kali ini Song berhasil memenangkan kontes dan juga bertemu Luo Hao yang akan menjadi suaminya. Luo Hao adalah seorang composer dan produser kontes tersebut . Luo terkesan dengan suara Song dan bakat menyanyinya. Dan kemudian memperkenalkan Song kepada Jin Tielin , presiden China Conservatory of Music yang juga menjadi juri dalam kompetisi tersebut. Jin juga mengagumi bakat Song dan kemudian mengajak Song untuk menempuh program master-nya.
Song mulai tampil kedepan saat menyanyikan “The Little Pannier” di sebuah variety show di CCTV pada tahun 1990. Direktur Huang Yihe kemudian menempatkan Song untuk pertunjukan Spring Festival Eve. Sejak saat itu karir Song berkembang pesat dan menjadi soprano paling populer di Tiongkok. Lagu “trade mark”-nya antara lain “Happy Life” , “A Song Flying Out of Miao Mountain” , “Spicy Girl” dan “Love My China”.
Di tahun 1996 , Song mengadakan tour ke Australia. Terbersit keinginan untuk menyanyikan lagu rakyat di tempat-tempat terkenal dunia. Song merasa terpanggil untuk mempromosikan lagu-lagu Tionghua keseluruh dunia sebagai bagian pengabdiannya kepada negara dan rakyat.
Song mulai mendapat pengakuan internasional. Album CD “The Diva Goes To The Movies : A Centennial Celebration of Chinese Film Song “ menerima nominasi Grammy untuk album klasik terbaik.
Song menjadi satu-satunya soprano Tionghua yang tampil di Sydney Opera yang bergengsi pada tahun 2002 , Vienna Musikverein Golden Concert Hall ditahun  2003 dan John F Kennedy Center di tahun 2006. Ditempat pertunjukan bergengsi ini Song berkolaborasi dengan orkestra asing.
Dibulan Mei 2007 , Song berkontribusi dalam pertukaran budaya antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Dalam event ini , audiens Amerika menikmati performance memukau. Michael M Kaiser berkomentar bahwa suara Song membuatnya menjadi duta internasional teratas bagi musik rakyat Tionghua.
Selain menjadi penyanyi kelas dunia , Song juga seorang prajurit PLA-Navy dimana dia bergabung dalam kelompok Musik dan Tari dalam PLA-Navy ditahun 1991. Dibulan Mei , Song dipercaya komandannya untuk dipromosikan menjadi wakil presiden kelompok tersebut.
Kesuksesan yang dicapainya tidak memudarkan ingatan Song akan kehidupan sulitnya dikampung halaman. Song juga teringat bagaimana seorang dermawan baik hati dan lima yuan yang merubah hidupnya. Sebuah bantuan “kecil” yang jika tanpanya , Song mungkin akan tetap menjadi wanita biasa di desa. Karena itu sejak tahun 1995 , Song mendonasikan buku , komputer , televise , piano dan fasilitas belajar di Sekolah Dasar Yantouzhai. Ditahun 2004 , Song membidani Song Zuying Education Fund dan telah menggelontorkan dana pendidikan sejumlah 1.7 juta yuan di provinsi Hunan.
Referensi :
  1. Chen Jie , “ A Song For Our Soldiers” , China Daily , 1 Agustus 2007

Selasa, 12 Februari 2013

SONG ZUYING PROFILE

Song Zuying (Chinese宋祖英pinyinSòng Zǔyīng; born August 13, 1966) is an ethnic Miao Chinese singer.

Biography

Song was born in Guzhang county, part of a Miao autonomous prefecture in Hunan and studied in the department of music and dancing at the Central Institute for Nationalities in Beijing, after which she studied at the China Music College. Her father died when she was 12, and she is the oldest daughter. In 1991, she joined the Chinese People's Liberation Army Naval Song and Dance Troupe as a national first-class singer. As of 2009, she is a non-combatant Rear Admiral in the Chinese Navy.

Awards
In the recent years, she has been received the following awards:
  • 1st Award of China Vocality Contest of Minor Nationality
  • Golden Award of MTV Contest of CCTV
  • Golden Award of the Nationality Group of “Most favorite singer” of CPB of China
  • 1st Award of “Starlight Award” of China National Broadcasting and Television Department
  • The Award of Golden Disc of China
  • Award of Outstanding Contribution of Chinese National Vocality of CCTV
  • Award of Club for the opera of China
  • Artist of Moral and Ability, by China Ministry of Personnel and China Literature Association.
  • Award of Charity in China by China Department of People’s Affair


Discography and international activities
Song Zuying has published many personal albums and videos, and she has published Happy Life – Photo Album of Song Zuying, Real Passion in the Music World – Selection of Songs by Song Zuying and Voices of a Hundred Years – The Classics of the Songs in the Chinese Films over a Century.
In recent years, Song Zuying has visited Europe, Australia, USA, Canada and Southeastern Asia for the art interaction with China Art Delegation. In the World Cup held in Korea in 2002, Song was invited to sing representing the Chinese in the large scale vocal concert. In December 2002, as the culture ambassador for the 30th anniversary for the establishment of the diplomatic relation between China and Australia, she held the vocal concert “Prosperity” in Sydney, Australia successfully. In November 2003, she held the personal vocal concert in the Golden Hall in Vienna, Austria successfully.
She has held solo concert performances at international venues such as Sydney Opera House in 2002, Vienna Golden Hall in 2004, and John F. Kennedy Centre for the Performing Arts in 2008 were held for the political elites in those respective countries for diplomatic purposes.
In 2006, her CD "The Diva Goes to the Movies: A Centennial Celebration of Chinese Film Song" was nominated for the 49th Annual Grammy Awards in the category of Best Classical Crossover Album.
Song Zuying performed a duet with tenor Plácido Domingo at the 2008 Summer Olympics closing ceremony in Beijing. She also performs regularly on the Chinese Spring Festival Gala; in 2009, in addition to her own song, she sang a duet with Jay Chou.
Jay Chou, Plácido Domingo, and Lang Lang and Cut Time Crew an American band called Dirty Bath Water in the United States were guests in her 2009 summer concert at the Bird's Nest in Beijing.
On May 1, 2010, the day following the opening ceremony of the Expo 2010, in Shanghai, China,  Zuying joined tenor Andrea Bocelli, singer Jay Chou, and concert pianist Lang Lang in a concert titled Charming China at Shanghai Stadium, in front of an audience of 80,000 people. The China Philharmonic Orchestra accompanied them under the direction of its artistic director Yu Long.
Song Zuying, Andrea Bocelli and Lang Lang (at the piano) performing Time to Say Goodbye at the East Meets Westconcert.
On June 5, 2012, Song once again performed with Bocelli, Yu Long and Lang Lang in the East Meets West concert at London's Royal Albert Hall.
On February 9, 2013, Chinese New Years Eve, Song Zuying sang the traditional Chinese song Jasmine Flower (茉莉花) as a duet with Canadian pop star Celine Dion at the CCTV New Year's Gala.

Kamis, 07 Februari 2013

HAL YANG TABU DILAKUKAN SAAT IMLEK


1. (JANGAN) MENYAPU
Hal yang tabu bagi aktivitas menyapu ini berkaitan dengan legenda Ru Yen. Bahkan dapat dikatakan bahwa Ru Yen inilah dewa rejeki sesungguhnya. Pada catatan Lu Yi Ji menceritakan bahwa jaman dahulu ada pedagang bernama Qi Ming yang berkenalan dengan Qing Hong Jun. Qi Ming amat menghormati Qing sehingga suatu saat Qing mengatakan akan mengabulkan satu permintaan dari Qi. Ada orang yang membisiki Qi agar Qi meminta Ru Yen (keinginan/harapan semoga terkabul).
Qing terkejut mendengar permintaan Qi ini dan Ru Yen itu sesungguhnya adalah pelayan wanita Qing. Tapi karena sudah terlanjur berjanji , maka Qing memberi Ru Yen kepada Qi.Ketika Ru Yen tinggal dirumah Qi , ternyata semua keinginan Qi terkabulkan dan akhirnya ia menjadi orang kaya yang sukses. Hingga pada saat hari sincia itu Ru Yen terlambat bangun. Qing amat marah dan hendak memukuli Ru Yen. Ru Yen amat ketakutan dan mengubah dirinya menjadi kecil kemudian bersembunyi diantara tumpukan sampah dipengki. Qi Ming memukuli pengki itu dan berteriak memanggil Ru Yen. Tapi Ru Yen tidak pernah muncul lagi. Sejak itu Qi berangsur-angsur menjadi miskin.
Kebiasaan orang-orang didaerah Kanglam atau Jiang Nan ( Su Hang) itu adalah mengikat atau merangkai uang dan menaruh dipengki kemudian berteriak memanggil Ru Yen. Walau sekarang kebiasaan memanggil-manggil nama Ru Yen tidak ada di kalangan orang-orang selatan ( Fu Jian , Guang Dong dan sekitarnya) tapi kebiasaan tidak membuang sampah keluar rumah dan tidak menyapu pada hari sincia itu masih ada. Harapannya adalah semoga Ru Yen tidak diturut terbuang bersama dengan sampah-sampah itu.
Makna atau pesan moral dari cerita ini adalah jangan berlaku kejam kepada bawahan sendiri. Seorang pedagang atau pengusaha tetap memerlukan pelayan/pembantu dalam hal usaha mencapai keinginan. Termasuk siapapun jangan kejam terhadap karyawan atau pembantu. Karena tanpa mereka juga kita tidak bisa apa-apa.
2. (JANGAN) MEMBERI ANGPAO UNTUK YANG BELUM MENIKAH 
Mengapa orang yang belum menikah tidak boleh memberi angpao, malah mendapat angpao ? Orang yang telah menikah dalam budaya Tionghoa dianggap mereka telah mapan dan secara ekonomi lebih baik daripada mereka yang belum menikah. Juga perkembangan psikologis bagi mereka yang menikah rata2 lebih baik daripada mereka yang belum menikah. Mereka yang telah menikah dianggap telah berhasil membentuk suatu keluarga yang baru. Dan walaupun status adik , tapi jika telah menikah , kedudukannya lebih tinggi dari kakaknya yang belum menikah. Untuk itu biasanya sang adik memberi angpao kepada kakaknya. Tidak perduli berapa umur kakaknya dan tidak perduli berapa kekayaan kakaknya. Tapi hal ini tidak berlaku bagi mereka yang memiliki karyawan. Mereka yang belum menikah tapi memiliki karyawan diwajibkan memberi angpao sebesar 1 bulan gaji kepada karyawannya. Biasanya angpao untuk karyawan itu diberikan pada tgl 23 atau 24 bulan 12. Ini diutamakan sebab mereka para karyawan juga memerlukan uang untuk mempersiapkan diri menyambut Imlek.
Bagi yang belum menikah, tetap berhak menerima angpao walaupun secara umur, seseorang itu sudah termasuk dewasa. Ini dilakukan dengan harapan angpao dari orang yang telah menikah akan memberikan nasib baik kepada orang tersebut, dalam hal ini tentunya jodoh. Bila seseorang yang belum menikah ingin memberikan angpao, sebaiknya cuma memberikan uang tanpa amplop merah. Namun tradisi di atas tidak mengikat. Sekarang ini, pemberikan angpao tentunya lebih didasarkan pada kemapanan secara ekonomi, lagipula makna angpao bukan sekedar terbatas berapa besar uang yang ada di dalamnya melainkan lebih jauh adalah bermakna senasib sepenanggungan, saling mengucapkan dan memberikan harapan baik untuk 1 tahun ke depan kepada orang yang menerima angpao tadi.
3. (JANGAN) MENANGIS
Menangis pada saat Tahun Baru diyakini berdampak negatif karena dapat menimbulkan kesialan dan membuat korbannya menangis terus-menerus sampai satu tahun ke depan. Akan tetapi, pantangan ini tidak berlaku bagi anak kecil yang menangis pada hari Imlek.
4. (JANGAN) BERKATA BURUK
Setiap orang yang merayakan Imlek sebaiknya tidak mengeluarkan kata-kata kasar, kotor atau yang bermakna buruk dan sial. Kata “empat” atau "si" juga ada baiknya dihindari karena mengandung negatif, yaitu kematian. Satu tabu lagi yang perlu dijauhi adalah menceritakan kisah kematian dan cerita hantu. Di hari Imlek , keluarga besar saling berkunjung dan rumah yang sedang dikunjungi disibukkan dengan berbagai persiapan untuk menyambut mereka. Berkata hal-hal yang buruk dirasa kurang pantas dalam suasana imlek dan juga bagi para tamu yang datang kerumah. 
5. (JANGAN) HUTANG 

Lunasilah seluruh utang sebelum Imlek dan hindari meminjamkan uang pada hari itu. Jika tidak, ada kemungkinan orang tersebut akan terus dipinjami uang oleh orang lain sepanjang tahun.

6.(JANGAN) KERAMAS 

Hindari mencuci rambut saat Imlek tiba karena bermakna mengusir semua keberuntungan sampai satu tahun ke depan.

7. (JANGAN) BERPAKAIAN WARNA HITAM DAN PUTIH

Pakaian berwarna hitam dan putih sering dikenakan orang Tionghua pada saat berkabung dan melayat ke tempat duka , jika ada salah satu kerabat atau teman meninggal dunia. Karena itu hindari pemakaian pakaian warna hitam dan putih di saat Imlek yang semestinya berlangsung dengan penuh suka cita menyambut tahun baru. 

8.(JANGAN ) MENGGUNAKAN BENDA TAJAM
Pisau atau gunting disebut-sebut dapat menjauhkan keberuntungan. Akan tetapi, hal tersebut bisa dihindari dengan menghindari penggunaan dua alat tajam itu pada saat Imlek.

9.(JANGAN ) MERUSAK
Dalam tradisi Tionghua , tabu untuk merusak sesuatu di hari Imlek , jika dilanggar , dipercaya bisa membawa nasib buruk . Contohnya adalah memecahkan gelas dan piring. 

10.(JANGAN ) MEMBUNUH
Menurut buku yang di tulis oleh seorang bermarga Dong dari masa dinasti Jin, dituliskan bahwa urutan penciptaan dalam mitologi penciptaan NvWa: [1] hari pertama ayam , [2] anjing ,[3] babi , [4] kambing , [5] sapi , [6] kuda , [7] manusia , [8] padi-padian 
Hari ketujuh itu kemudian diperingati sebagai hari manusia atau renri. Semua manusia berulangtahun di hari itu. Terlepas dari tanggal lahir, terutama mereka-mereka yang oleh suatu sebab tidak mengetahui secara pasti tanggal kelahirannya.
Di masa kaisar Cheng dari Dinasti Han , ada satu perintah untuk melarang membunuh ayam di hari Imlek. Ini juga berkaitan dengan kepercayaan di masa Dinasti Qin - Dinasti Han tentang "tujuh hari" mencipta.[1] hari pertama ayam , [2] anjing ,[3] babi , [4] kambing , [5] sapi , [6] kuda , [7] manusia. Jadi ketika ada angin kencang itu tidak baik , misal di hari pertama , tidak baik bagi ayam.  Berhubung ke mitologi penciptaan itu, di hari-hari masing binatang, ada tradisi untuk tidak menyembelih binatang yang bersangkutan. Di hari manusia biasanya diperingati dengan makanan 7 macam, bisa itu 7 macam sayur atau 7 macam ikan atau bercampur.
入正月一日而風, 不利雞; 二日風, 不利犬; 三日風, 不利豕; 四日風, 不利羊; 五日風, 不利牛; 六日風, 不利馬; 七日風, 不利人 [Qin Daybook B - Fangmatan]

11.(JANGAN) MEMEGANG BARANG TERTENTU
Barang-barang yang dinilai berkonotasi negatif di saat Imlek adalah buku, menyajikan buah pir, jam. Jadi barang-barang seperti ini sebaiknya dihindari untuk disentuh di hari Imlek.
Zhonghua Wenhua